nusaresearch
Banner Ads Banner Ads

06 November 2014

Prosa Penyambutan Presiden

Karya: Idha Massiri

Wahai Presiden,
Selamat Datang di Kota Daeng
Sejenak, ajaklah kami bercengkrama
Atau bila segan, izinkan kami yang mengajak Ayolah...
Duduklah tepat di hadapan kami
Kami punya banyak cerita yang mungkin belum sempat disampaikan oleh penyair, atau belum sempat dibuat film oleh sutradara, atau belum sempat ditulis oleh jurnalis
Ah...
Sepertinya ruang telah tertutup buat pemuda lusuh, dekil, slengean, dan berantakan kaya' kami
Arak-arakan mobil plat merah
Iringan serene tajam memekak telinga
Kawalan aparat berseragam, lengkap dengan mobil baja, pentungan, laras, senjata berbagai ukuran
Jadi atribut wajib pada penyambutanmu
Kejadianmu hanya mengharap itu?
Dangkal

Presiden,
Restulah dengan cara kami menyambutmu
Sebab banyak waktu kami habiskan, sekedar untuk merangkai kata yang pas kami ucapkan saat bertemu
Meski tak punya seragam lengkap
Meski tak punya tameng
Meski tak punya laras juga senjata
Meski tak punya mobil baja
Restulah...
Karena telah kami sajikan suguhan yang lebih meriah dibanyak titik
Lalu akan menghiburmu meski dengan suara serak dan parau
Megaphone+mobil box adalah modal kecil yang selalu kami gunakan dalam perayaan penyambutan

Presiden,
Dengarkan kami,
Kami anak kandung Ibu Pertiwi
Rindu bercengkrama dengan Ayah Negara
Bila tak sempat mampir,
Cukup berlalu di hadapan kami
Biar tercium aroma peluh tubuh
yang disetiap butir tetesnya mengandung semangat perjuangan.
Atas nama satu kata, "Rakyat"


#‎Masih‬ Berpeluh
Alauddin dan Sekitarnya,61114:16.00

Idha Massiri
Selengkapnya... 1 Komentar

03 September 2014

Teater dan Pluralisme

Dibandingkan dengan media lainnya, teater lebih bersifat multi-dimensi dan karenanya pendekatan teater bersifat holistik. Ada unsur tekstual (unsur cerita, dialog), unsur lakon, unsur pemeran, unsur musik dan artistik.

Unsur yang majemuk ini membuat teater lebih mungkin menyerap berbagai unsur dan keragaman budaya sebanyak-banyaknya. Teater dan pluralisme karenanya bukan hal yang asing. Pertama, dari aspek unsur-unsur teater, dan kedua dari aspek keragaman media dalam teater. Singkatnya, pada dirinya teater itu sendiri terdiri dari pluralitas media dan komunikasi.

Teater pada dirinya terdiri dari berbagai media. Musik, cerita, lakon, kostum, tata-ruang, adalah media dalam teater.

Pluralitas media ini memungkinkan teater menyerap keragaman dan perbedaan budaya. Unsur musik bisa digali dari berbagai kekayaan musik etnis, baik instrumen maupun melodinya. Unsur cerita dapat digali dari persoalan-persoalan setempat, mitologi, legenda dan cerita rakyat. Unsur tata-ruang dan busana dapat digali dari seni arsitektur, dekorasi dan busana setempat. Lalu bentuk teater itu sendiri dapat berupa atau mengadaptasi teater rakyat yang beragam (ketoprak, opera Batak, lenong, ludruk, dan lain-lain).

Meski demikian, pluralisme pada dasarnya sebuah praksis hidup karena merupakan suatu pencapaian. Sebagai praksis hidup, pluralisme dalam teater perlu diupayakan. Ia harus menyentuh dua aspek penting media: (1) konten teater dan (2) pengelolaan.

Pada media cetak, konten meliputi berita, foto berita, fitur, profil, wawancara, opini, dan iklan-iklan. Dan yang juga penting disimak adalah pencitraan melalui kata-kata dan deskripsi. Konten teater harus mendukung pluralisme termasuk bebas bias jender dan kekerasan, meliputi kata-kata, ekspresi tubuh, musik, dekorasi panggung dan cerita itu sendiri. Sedangkan pengorganisasian meliputi pengelolaan teater sebagai organisme hidup. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan teater agar mendukung pluralisme adalah berkeadilan jender dan non-diskriminasi.

Pengambilan keputusan tidak dimonopoli oleh laki-laki dan mengupayakan kepemimpinan bersama (collective leadership) dan praksis bersama (shared praxis)

Berdasarkan alasan collective leadership, team work dan shared praxis tersebut, maka pengelolaan teater mensyaratkan adanya interaksi di antara kepelbagaian dan perbedaan. Pluralisme adalah suatu pencapaian karena itu perlu dibangun mekanisme dan perilaku yang mendukung. Interaksi mengandaikan partisipasi aktif semua pihak. Ada dua hal dalam pengelolaan teater terkait dengan relasi- relasi manusia yang bersifat pengembangan partisipasi:

  • Seluruh anggota teater belajar mengembangkan relasi-relasi dengan sesama anggota. Misalnya, belajar menerima kelemahan dan keunggulan orang lain, belajar toleransi atas perbedaan-perbedaan, belajar menerima kritik, belajar mengembangkan empati dan solidaritas;
  • Pengorganisasian. Pengorganisasian di sini adalah belajar bersama dan bekerjasama. Meningkatnya interaksi diharapkan dapat mendorong anggota untuk lebih menghargai pendapat orang lain dan mengalahkan kepentingan pribadi untuk mencapai tujuan bersama.


Karena itu, Apa Saja Manfaat Teater bagi Komunitas?
Aspek-aspek kehidupan komunitas yang diberdayakan sekurangnya meliputi:

  1. Tekstual-konseptual. Bagaimana menggali kekayaan budaya (musik, legenda/mitologi/cerita rakyat, dekorasi, dll.) untuk memperkaya dan memperkuat pementasan? Atau, jika cerita bertolak dari Kitab Suci, maka bagaimana menghidupkan teks-teksnya untuk masa kini?
  2. Seni peran yang meliputi artikulasi fisik (tubuh), rasa, suara, dan imajinasi. Anggota teater berlatih menemukan dan mengenali fisiknya (tubuh), menemukan lapisan-lapisan perasaan dan kesadaran, mengartikulasikan ucapan/suara, mengembangkan imajinasi dan berlakon.
  3. Meningkatkan kepekaan tubuh melalui olah tubuh, olah rasa, dan olah suara.
  4. Analisa sosial bersama. Belajar menemukan, memahami dan memetakan persoalan-persoalan hidup pribadi, kolektif maupun masalah sosial yang lebih luas.
  5. Dalam konteks relasi-relasi sosial komunitas, teater mendorong anggota-anggotanya untuk mengembangkan interaksi, partisipasi dalam keberagaman dan perbedaan anggota-anggota teater. Teater juga menyediakan kesempatan untuk belajar pengorganisasian diri (self-organizing) bagi komunitas serta belajar bekerjasama mencapai tujuan bersama. Pengembangan relasi sosial yang menekankan pada interaksi, partisipasi, serta kerjasama dan kerja bersama untuk mencapai tujuan bersama juga menempatkan pementasan teater sebagai sebuah proses ketimbang hasil akhir.
  6. Mencipta media. Teater komunitas pertama-tama adalah media rakyat dari, oleh dan untuk komunitas. Penciptaan teater sebagai media komunitas membuka akses rakyat untuk ikut terlibat aktif dalam proses bermedia dan menjadi subyek media dan bukan semata obyek.



Sumber:
MODUL PELATIHAN TEATER UNTUK PENGUATAN KAPASITAS
Sebuah Panduan untuk Fasilitator

Penulis: Thompson Hs dan Rainy MP Hutabarat

Penerbit:
YAKOMA-PGI Alamat: Jalan Cempaka Putih Timur XI/26 Jakarta 10510
Selengkapnya... 3 Komentar

21 June 2014

Lana

Sepuluh atau lima belas menit yang lalu aku sampai di rumah. Cekaman sepi menyambut manja. Setelah menyalakan lampu di ruang tamu. Aku langsung masuk kamar. Jendela sedari pagi terbuka. Aku ingin menutupnya, biar nyamuk tak menyusup masuk dan mencuri darahku ketika aku lelap. Hari ini aku tak membawa Lana, kubiarkan saja ia tergantung di belakang pintu. Ia butuh istirahat. Punggungku juga butuh istirahat menggendongnya. Dua hari ini punggungku sakit hingga tembus ke tulang belakangku. Barangkali karena Lana terlalu berat. Di perutnya kadang aku mengisinya dengan Notebook, buku, pakaian hingga alat mandi. Untung saja Lana kuat menanggung beban itu, meski aku selalu saja khawatir talinya akan putus di tengah jalan karena terlalu berat. Ooo akan kuceritakan siapa Lana. Ia adalah ranselku. Tapi akan kurahasiakan mereknya. Lana teman setia yang tak pernah bosan temaniku jelajahi Makassar, meski gerah, meski hujan. Kakakku kadang menganggap Lana adalah lemari berjalan. Disesaki barang-barang. Tapi Lana tak pernah mengeluh, ia menerima segala yang bisa muat di perutnya, termasuk beras dan pisang jika aku dari kampungku, Bulukumba. Aku suka memberi nama barang-barang yang kumiliki, bahkan tempat tinggalku pun tak lepas dari pemberian nama. Ketika kos dulu, nama kamarku adalah kamar sunyi dan rumah yang kutinggali sekarang kunamai rumah kekasih, tempat segala rindu dan kenangan tumbuh. Dan ranselku kunamai Lana, ia serupa kekasih yang menyimpan segala ceritaku, sebab di perutnya ada buku diari, yang tak pernah luput kutulisi segala kisah, jika Lana bisa membacanya, tentu saja ia akan tahu semua rahasiaku. Lana mempunyai banyak arti, jika diartikan dari bahasa Yunani, berarti cahaya. Tapi aku lebih cinta bahasa Indonesia ketimbang bahasa asing, maka aku artikan saja Lana dari bahasa Indonesia yang artinya lembut. Sifat sebuah ransel itu lembut, ia tak pernah marah meski diabaikan sekalipun. Tak pernah membenci meski dimaki karena tak lagi muat barang-barang di perutnya. Lana, masih tergantung lesu di belakang pintu kamarku. Ketika aku menulis kisah ini. Beberapa ekor nyamuk kulihat terbang lalu sembunyi di tubuhnya. Nyamuk rupanya berhasil menyusup lewat jendela yang telat kututup. Kubiarkan saja nyamuk tersebut bertengger di tubuh Lana, hingga aku tak diusiknya ketika nonton pagelaran Piala Dunia sebentar atau ketika aku sedang lelap. Kini sepi benar-benar kental. Aku menatap Lana. Ia telah tiga tahun temaniku. Betapa setianya, warna hitamnya telah memudar, tapi ia masih betah menawarkan jasanya dengan segala kelembutannya yang eksotis-sesuai namanya. Rumah kekasih, 6/17/2014
Selengkapnya... 1 Komentar

09 May 2014

Cerpen: Parakang

Penulis: Irhyl R. Makkatutu

Parakang...parakang...parakang...”
Kami berlari terbirit-birit. Sesampai di rumah kami mengetuk pintu rumah bertubi-tubi. Ayah bangun tergesa. Jalannya gontai. Kami masuk rumah. Kulirik jarum jam, menunjuk angka 11 tepat. Malam telah cukup larut untuk ukuran kampungku. Jika malam telah larut tak ada lagi orang yang berkeliaran. Kecuali yang pulang nonton TV di rumah H. Jamal pemilik TV 14 inci satu-satunya di kampung kami. Jika ingin menonton harus membayar pembeli bensin. PLN belum masuk ke kampung.

Istilah parakang menjadi lelucon kami jika pulang nonton tengah malam. Jika ada yang mengatakan ada parakang atau mendengar suara aneh. Kami akan berlomba berlari sambil tertawa. Meski saat itu wajah kami  pasti pucat. Aku tiga bersaudara, lelaki semua. Hampir seumuran. Kami  suka pergi nonton di rumah H. Jamal.
“Parakang itu hanya mitos, Ayah sendiri belum pernah melihatnya, jangan percaya,” kata Ayah menenangkan kami
“Kata orang, puang Hasming itu parakang,” kataku.
“Itu tidak benar,” kata ayah.

Puang Hasming adalah perempuan tua di kampung kami. Tapi ia masih kuat ke kebun mengambil kayu bakar dan menebang pisang. Namanya Hasmin. Tapi warga, termasuk aku sulit berhentin di huruf konsonan N harus ditambah konsonan G, jadinya Hasming. Paung Hasming juga tak pernah protes jika namanya ditambah huruf G. Mungkin beliau mengira namanya telah betul.

Konon, orang bisa jadi parakang karena membaca mantera yang salah atau tertukar. Ada juga yang berpendapat karena faktor genetik - turun temurun. Parakang adalah manusia jadi-jadian, bisa berubah wujud. Tapi aku sama seperti ayah, tak sekalipun melihat parakang.

Kedua saudaraku juga tidak pernah melihat. Namun aku selalu tertarik jika ada yang bercerita perihal parakang. Rasanya mistik dan misteri. Aku sering berkhayal di rumah kami yang berdinding papan dan berlubang-lubang ada parakang mengintip. Matanya besar dan mulutnya mengeluarkan lendir. Mengerikan. Karenanya aku tak pernah berani tidur sendiri. Kedua saudaraku pun demikian. Jadilah kami satu tempat tidur tiap malam. Hal itu pula yang membuat kami akrab satu sama lain.

Puang Hasming memiliki anak. Namanya Haderia, seumuran aku. Tapi aku tak berani bermain bersamanya. Aku takut jadi santapannya. Ibunya dikenal sebagai parakang yang ganas di kampungku. Parakang suka memakan orang, khususnya bayi. Jika ada orang sakit warga akan datang berbondong-bondong ke rumah si sakit. Begadang hingga pagi. Berjaga-jaga agar tidak ada parakang yang datang memakan si sakit.

Suatu malam di malam Jumat. Kakakku sakit perut. Merontah-rontah, merintih tak tertahankan. Ia muntah di tempat tidur. Aku yang tidur di sampingnya terbangun kaget. Muntahnya hitam pekat dan bau. Sejak malam itu, suara-suara aneh di sekitar rumah bermunculan. Lolongan anjing bersahutan. Pohon cengkeh di depan rumah bergemeretak, padahal angin tak sedang bertiup kencang. Kadang terdengar ada orang yang naik ke tangga lalu mengetuk pintu. Tapi setelah dibuka, tak ada sesiapa. Di belakang rumah lebih gila lagi, suara seperti menyeret ranting-ranting bambu terdengar mengerikan.

Bau asing tiba-tiba memenuhi rumah panggung kami bercampur bau kemenyan. Bau obat dokter bercampur bau obat tradisional. Air yang sudah dituangi mantera bergelas-gelas di dekat kakak pertamaku itu. Mukanya pucat.
“Selama sakit, ia belum pernah kentut? Tanya puang Rakka, sanro terkenal di kampungku.
“Belum pernah,” jawab ibuku dengan suara sedih yang ditekan.
Puang Rakka menarik napas. Ia percaya jika ada orang sakit perut dan kentut berarti sakit perutnya bisa sembuh. Aku tak tahu itu teori dari mana. Apakah memang betul, kentut bisa menyembuhkan sakit perut?

Orang berbondong-bondong datang menjenguk kakakku. Bahkan ketika di rawat di RSUD Bulukumba pun demikian. Koridor rumah sakit penuh. Satpam RS tak berani mengusir karena saking banyaknya orang yang datang menjenguk. Tak sedikit yang bermalam dan tidur di koridor rumah sakit beralaskan koran bekas.

Puang Hasming dan Haderia juga pernah sekali datang menjenguk.  Hanya sebentar mungkin merasa tak enak telah jadi tertuduh memakan kakakku. Semua orang tahu, kalau puang Hasming sekeluarga adalah parakang, meski belum ada yang mampu membuktikannya.

Hanya empat hari kakak sulungku itu mengerang sakit perut. Ia akhirnya menemui ajalnya. Kematian telah menyembuhkannya dari sakit. Isak tangis keluarga pecah. Wajah-wajah duka terlihat memilukan. Ayah lebih banyak diam, namun ia tak menangis hanya murung tak tahu berbuat apa. Buah hati yang menyempurnakannya sebagai laki-laki sekaligus ayah telah berjalan menuju kehidupan sesungguhnya, kehidupan tanpa rekayasa, tanpa kemunafikan dan kebohongan. Sementara ibu, beberapa kali pingsan dan terbujur kaki di samping mayat kakakku.

Keluarga besarku tak kuasa menahan sedihnya. Bahkan ada beberapa orang yang nekat akan menyerang dan membakar rumah puang Hasming yang diduga menyebabkan kakakku meninggal.
“Jumran telah dimakan parakang hingga meninggal, isi perutnya kosong,” opini sepupuku itu kudengar samar.
“Iya saya juga duga begitu,” sahut warga yang berkerumun di depan rumah.
*******

Umurku saat kejadian itu baru menginjak tiga belas tahun. Aku belum mengerti sepenuhnya arti kehilangan. Hanya yang kutahu, sejak saat itu kami tak pernah lagi pergi menonton di rumah H. Jamal. Tak ada lagi kejar-kejaran sepulang nonton sambil berteriak “parakang”. Tak ada lagi ritual tidur bertiga. Tak ada.

Aku dan Haderia tumbuh bersama, menuju kedewasaan. Tapi aku takut berdekatan dengannya. Gelar parakang ibunya masih membayang, jika benar parakang turun temurun, maka Haderia juga adalah parakang. Mata rantai itu tak akan terputus. Puang Hasming telah lama meninggal. Namun warga belum sepenuhnya berani keluar malam seorang diri dan jika ada yang sakit, warga masih berbondong berjaga-jaga. Suara aneh masih sering terdengar di sekitar rumah si sakit.

Haderia tumbuh jadi gadis cantik memukau. Banyak pemuda sering berkunjung ke rumahnya, berharap cintanya. Aku tak sekalipun ke rumahnya. Aku memilih lebih banyak tertunduk jika lewat di depan rumahnya. Bukan lagi karena takut Haderia adalah keturunan parakang. Tapi aku takut menatap matanya. Itu saja.###

Irhyl R Makkatutu
Selengkapnya... 5 Komentar