06 November 2014

Prosa Penyambutan Presiden

Karya: Idha Massiri

Wahai Presiden,
Selamat Datang di Kota Daeng
Sejenak, ajaklah kami bercengkrama
Atau bila segan, izinkan kami yang mengajak Ayolah...
Duduklah tepat di hadapan kami
Kami punya banyak cerita yang mungkin belum sempat disampaikan oleh penyair, atau belum sempat dibuat film oleh sutradara, atau belum sempat ditulis oleh jurnalis
Ah...
Sepertinya ruang telah tertutup buat pemuda lusuh, dekil, slengean, dan berantakan kaya' kami
Arak-arakan mobil plat merah
Iringan serene tajam memekak telinga
Kawalan aparat berseragam, lengkap dengan mobil baja, pentungan, laras, senjata berbagai ukuran
Jadi atribut wajib pada penyambutanmu
Kejadianmu hanya mengharap itu?
Dangkal

Presiden,
Restulah dengan cara kami menyambutmu
Sebab banyak waktu kami habiskan, sekedar untuk merangkai kata yang pas kami ucapkan saat bertemu
Meski tak punya seragam lengkap
Meski tak punya tameng
Meski tak punya laras juga senjata
Meski tak punya mobil baja
Restulah...
Karena telah kami sajikan suguhan yang lebih meriah dibanyak titik
Lalu akan menghiburmu meski dengan suara serak dan parau
Megaphone+mobil box adalah modal kecil yang selalu kami gunakan dalam perayaan penyambutan

Presiden,
Dengarkan kami,
Kami anak kandung Ibu Pertiwi
Rindu bercengkrama dengan Ayah Negara
Bila tak sempat mampir,
Cukup berlalu di hadapan kami
Biar tercium aroma peluh tubuh
yang disetiap butir tetesnya mengandung semangat perjuangan.
Atas nama satu kata, "Rakyat"


#‎Masih‬ Berpeluh
Alauddin dan Sekitarnya,61114:16.00

Idha Massiri
Selengkapnya... 1 Komentar

03 September 2014

Teater dan Pluralisme

Dibandingkan dengan media lainnya, teater lebih bersifat multi-dimensi dan karenanya pendekatan teater bersifat holistik. Ada unsur tekstual (unsur cerita, dialog), unsur lakon, unsur pemeran, unsur musik dan artistik.

Unsur yang majemuk ini membuat teater lebih mungkin menyerap berbagai unsur dan keragaman budaya sebanyak-banyaknya. Teater dan pluralisme karenanya bukan hal yang asing. Pertama, dari aspek unsur-unsur teater, dan kedua dari aspek keragaman media dalam teater. Singkatnya, pada dirinya teater itu sendiri terdiri dari pluralitas media dan komunikasi.

Teater pada dirinya terdiri dari berbagai media. Musik, cerita, lakon, kostum, tata-ruang, adalah media dalam teater.

Pluralitas media ini memungkinkan teater menyerap keragaman dan perbedaan budaya. Unsur musik bisa digali dari berbagai kekayaan musik etnis, baik instrumen maupun melodinya. Unsur cerita dapat digali dari persoalan-persoalan setempat, mitologi, legenda dan cerita rakyat. Unsur tata-ruang dan busana dapat digali dari seni arsitektur, dekorasi dan busana setempat. Lalu bentuk teater itu sendiri dapat berupa atau mengadaptasi teater rakyat yang beragam (ketoprak, opera Batak, lenong, ludruk, dan lain-lain).

Meski demikian, pluralisme pada dasarnya sebuah praksis hidup karena merupakan suatu pencapaian. Sebagai praksis hidup, pluralisme dalam teater perlu diupayakan. Ia harus menyentuh dua aspek penting media: (1) konten teater dan (2) pengelolaan.

Pada media cetak, konten meliputi berita, foto berita, fitur, profil, wawancara, opini, dan iklan-iklan. Dan yang juga penting disimak adalah pencitraan melalui kata-kata dan deskripsi. Konten teater harus mendukung pluralisme termasuk bebas bias jender dan kekerasan, meliputi kata-kata, ekspresi tubuh, musik, dekorasi panggung dan cerita itu sendiri. Sedangkan pengorganisasian meliputi pengelolaan teater sebagai organisme hidup. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan teater agar mendukung pluralisme adalah berkeadilan jender dan non-diskriminasi.

Pengambilan keputusan tidak dimonopoli oleh laki-laki dan mengupayakan kepemimpinan bersama (collective leadership) dan praksis bersama (shared praxis)

Berdasarkan alasan collective leadership, team work dan shared praxis tersebut, maka pengelolaan teater mensyaratkan adanya interaksi di antara kepelbagaian dan perbedaan. Pluralisme adalah suatu pencapaian karena itu perlu dibangun mekanisme dan perilaku yang mendukung. Interaksi mengandaikan partisipasi aktif semua pihak. Ada dua hal dalam pengelolaan teater terkait dengan relasi- relasi manusia yang bersifat pengembangan partisipasi:

  • Seluruh anggota teater belajar mengembangkan relasi-relasi dengan sesama anggota. Misalnya, belajar menerima kelemahan dan keunggulan orang lain, belajar toleransi atas perbedaan-perbedaan, belajar menerima kritik, belajar mengembangkan empati dan solidaritas;
  • Pengorganisasian. Pengorganisasian di sini adalah belajar bersama dan bekerjasama. Meningkatnya interaksi diharapkan dapat mendorong anggota untuk lebih menghargai pendapat orang lain dan mengalahkan kepentingan pribadi untuk mencapai tujuan bersama.


Karena itu, Apa Saja Manfaat Teater bagi Komunitas?
Aspek-aspek kehidupan komunitas yang diberdayakan sekurangnya meliputi:

  1. Tekstual-konseptual. Bagaimana menggali kekayaan budaya (musik, legenda/mitologi/cerita rakyat, dekorasi, dll.) untuk memperkaya dan memperkuat pementasan? Atau, jika cerita bertolak dari Kitab Suci, maka bagaimana menghidupkan teks-teksnya untuk masa kini?
  2. Seni peran yang meliputi artikulasi fisik (tubuh), rasa, suara, dan imajinasi. Anggota teater berlatih menemukan dan mengenali fisiknya (tubuh), menemukan lapisan-lapisan perasaan dan kesadaran, mengartikulasikan ucapan/suara, mengembangkan imajinasi dan berlakon.
  3. Meningkatkan kepekaan tubuh melalui olah tubuh, olah rasa, dan olah suara.
  4. Analisa sosial bersama. Belajar menemukan, memahami dan memetakan persoalan-persoalan hidup pribadi, kolektif maupun masalah sosial yang lebih luas.
  5. Dalam konteks relasi-relasi sosial komunitas, teater mendorong anggota-anggotanya untuk mengembangkan interaksi, partisipasi dalam keberagaman dan perbedaan anggota-anggota teater. Teater juga menyediakan kesempatan untuk belajar pengorganisasian diri (self-organizing) bagi komunitas serta belajar bekerjasama mencapai tujuan bersama. Pengembangan relasi sosial yang menekankan pada interaksi, partisipasi, serta kerjasama dan kerja bersama untuk mencapai tujuan bersama juga menempatkan pementasan teater sebagai sebuah proses ketimbang hasil akhir.
  6. Mencipta media. Teater komunitas pertama-tama adalah media rakyat dari, oleh dan untuk komunitas. Penciptaan teater sebagai media komunitas membuka akses rakyat untuk ikut terlibat aktif dalam proses bermedia dan menjadi subyek media dan bukan semata obyek.



Sumber:
MODUL PELATIHAN TEATER UNTUK PENGUATAN KAPASITAS
Sebuah Panduan untuk Fasilitator

Penulis: Thompson Hs dan Rainy MP Hutabarat

Penerbit:
YAKOMA-PGI Alamat: Jalan Cempaka Putih Timur XI/26 Jakarta 10510
Selengkapnya... 3 Komentar

21 June 2014

Lana

Sepuluh atau lima belas menit yang lalu aku sampai di rumah. Cekaman sepi menyambut manja. Setelah menyalakan lampu di ruang tamu. Aku langsung masuk kamar. Jendela sedari pagi terbuka. Aku ingin menutupnya, biar nyamuk tak menyusup masuk dan mencuri darahku ketika aku lelap. Hari ini aku tak membawa Lana, kubiarkan saja ia tergantung di belakang pintu. Ia butuh istirahat. Punggungku juga butuh istirahat menggendongnya. Dua hari ini punggungku sakit hingga tembus ke tulang belakangku. Barangkali karena Lana terlalu berat. Di perutnya kadang aku mengisinya dengan Notebook, buku, pakaian hingga alat mandi. Untung saja Lana kuat menanggung beban itu, meski aku selalu saja khawatir talinya akan putus di tengah jalan karena terlalu berat. Ooo akan kuceritakan siapa Lana. Ia adalah ranselku. Tapi akan kurahasiakan mereknya. Lana teman setia yang tak pernah bosan temaniku jelajahi Makassar, meski gerah, meski hujan. Kakakku kadang menganggap Lana adalah lemari berjalan. Disesaki barang-barang. Tapi Lana tak pernah mengeluh, ia menerima segala yang bisa muat di perutnya, termasuk beras dan pisang jika aku dari kampungku, Bulukumba. Aku suka memberi nama barang-barang yang kumiliki, bahkan tempat tinggalku pun tak lepas dari pemberian nama. Ketika kos dulu, nama kamarku adalah kamar sunyi dan rumah yang kutinggali sekarang kunamai rumah kekasih, tempat segala rindu dan kenangan tumbuh. Dan ranselku kunamai Lana, ia serupa kekasih yang menyimpan segala ceritaku, sebab di perutnya ada buku diari, yang tak pernah luput kutulisi segala kisah, jika Lana bisa membacanya, tentu saja ia akan tahu semua rahasiaku. Lana mempunyai banyak arti, jika diartikan dari bahasa Yunani, berarti cahaya. Tapi aku lebih cinta bahasa Indonesia ketimbang bahasa asing, maka aku artikan saja Lana dari bahasa Indonesia yang artinya lembut. Sifat sebuah ransel itu lembut, ia tak pernah marah meski diabaikan sekalipun. Tak pernah membenci meski dimaki karena tak lagi muat barang-barang di perutnya. Lana, masih tergantung lesu di belakang pintu kamarku. Ketika aku menulis kisah ini. Beberapa ekor nyamuk kulihat terbang lalu sembunyi di tubuhnya. Nyamuk rupanya berhasil menyusup lewat jendela yang telat kututup. Kubiarkan saja nyamuk tersebut bertengger di tubuh Lana, hingga aku tak diusiknya ketika nonton pagelaran Piala Dunia sebentar atau ketika aku sedang lelap. Kini sepi benar-benar kental. Aku menatap Lana. Ia telah tiga tahun temaniku. Betapa setianya, warna hitamnya telah memudar, tapi ia masih betah menawarkan jasanya dengan segala kelembutannya yang eksotis-sesuai namanya. Rumah kekasih, 6/17/2014
Selengkapnya... 1 Komentar

09 May 2014

Cerpen: Parakang

Penulis: Irhyl R. Makkatutu

Parakang...parakang...parakang...”
Kami berlari terbirit-birit. Sesampai di rumah kami mengetuk pintu rumah bertubi-tubi. Ayah bangun tergesa. Jalannya gontai. Kami masuk rumah. Kulirik jarum jam, menunjuk angka 11 tepat. Malam telah cukup larut untuk ukuran kampungku. Jika malam telah larut tak ada lagi orang yang berkeliaran. Kecuali yang pulang nonton TV di rumah H. Jamal pemilik TV 14 inci satu-satunya di kampung kami. Jika ingin menonton harus membayar pembeli bensin. PLN belum masuk ke kampung.

Istilah parakang menjadi lelucon kami jika pulang nonton tengah malam. Jika ada yang mengatakan ada parakang atau mendengar suara aneh. Kami akan berlomba berlari sambil tertawa. Meski saat itu wajah kami  pasti pucat. Aku tiga bersaudara, lelaki semua. Hampir seumuran. Kami  suka pergi nonton di rumah H. Jamal.
“Parakang itu hanya mitos, Ayah sendiri belum pernah melihatnya, jangan percaya,” kata Ayah menenangkan kami
“Kata orang, puang Hasming itu parakang,” kataku.
“Itu tidak benar,” kata ayah.

Puang Hasming adalah perempuan tua di kampung kami. Tapi ia masih kuat ke kebun mengambil kayu bakar dan menebang pisang. Namanya Hasmin. Tapi warga, termasuk aku sulit berhentin di huruf konsonan N harus ditambah konsonan G, jadinya Hasming. Paung Hasming juga tak pernah protes jika namanya ditambah huruf G. Mungkin beliau mengira namanya telah betul.

Konon, orang bisa jadi parakang karena membaca mantera yang salah atau tertukar. Ada juga yang berpendapat karena faktor genetik - turun temurun. Parakang adalah manusia jadi-jadian, bisa berubah wujud. Tapi aku sama seperti ayah, tak sekalipun melihat parakang.

Kedua saudaraku juga tidak pernah melihat. Namun aku selalu tertarik jika ada yang bercerita perihal parakang. Rasanya mistik dan misteri. Aku sering berkhayal di rumah kami yang berdinding papan dan berlubang-lubang ada parakang mengintip. Matanya besar dan mulutnya mengeluarkan lendir. Mengerikan. Karenanya aku tak pernah berani tidur sendiri. Kedua saudaraku pun demikian. Jadilah kami satu tempat tidur tiap malam. Hal itu pula yang membuat kami akrab satu sama lain.

Puang Hasming memiliki anak. Namanya Haderia, seumuran aku. Tapi aku tak berani bermain bersamanya. Aku takut jadi santapannya. Ibunya dikenal sebagai parakang yang ganas di kampungku. Parakang suka memakan orang, khususnya bayi. Jika ada orang sakit warga akan datang berbondong-bondong ke rumah si sakit. Begadang hingga pagi. Berjaga-jaga agar tidak ada parakang yang datang memakan si sakit.

Suatu malam di malam Jumat. Kakakku sakit perut. Merontah-rontah, merintih tak tertahankan. Ia muntah di tempat tidur. Aku yang tidur di sampingnya terbangun kaget. Muntahnya hitam pekat dan bau. Sejak malam itu, suara-suara aneh di sekitar rumah bermunculan. Lolongan anjing bersahutan. Pohon cengkeh di depan rumah bergemeretak, padahal angin tak sedang bertiup kencang. Kadang terdengar ada orang yang naik ke tangga lalu mengetuk pintu. Tapi setelah dibuka, tak ada sesiapa. Di belakang rumah lebih gila lagi, suara seperti menyeret ranting-ranting bambu terdengar mengerikan.

Bau asing tiba-tiba memenuhi rumah panggung kami bercampur bau kemenyan. Bau obat dokter bercampur bau obat tradisional. Air yang sudah dituangi mantera bergelas-gelas di dekat kakak pertamaku itu. Mukanya pucat.
“Selama sakit, ia belum pernah kentut? Tanya puang Rakka, sanro terkenal di kampungku.
“Belum pernah,” jawab ibuku dengan suara sedih yang ditekan.
Puang Rakka menarik napas. Ia percaya jika ada orang sakit perut dan kentut berarti sakit perutnya bisa sembuh. Aku tak tahu itu teori dari mana. Apakah memang betul, kentut bisa menyembuhkan sakit perut?

Orang berbondong-bondong datang menjenguk kakakku. Bahkan ketika di rawat di RSUD Bulukumba pun demikian. Koridor rumah sakit penuh. Satpam RS tak berani mengusir karena saking banyaknya orang yang datang menjenguk. Tak sedikit yang bermalam dan tidur di koridor rumah sakit beralaskan koran bekas.

Puang Hasming dan Haderia juga pernah sekali datang menjenguk.  Hanya sebentar mungkin merasa tak enak telah jadi tertuduh memakan kakakku. Semua orang tahu, kalau puang Hasming sekeluarga adalah parakang, meski belum ada yang mampu membuktikannya.

Hanya empat hari kakak sulungku itu mengerang sakit perut. Ia akhirnya menemui ajalnya. Kematian telah menyembuhkannya dari sakit. Isak tangis keluarga pecah. Wajah-wajah duka terlihat memilukan. Ayah lebih banyak diam, namun ia tak menangis hanya murung tak tahu berbuat apa. Buah hati yang menyempurnakannya sebagai laki-laki sekaligus ayah telah berjalan menuju kehidupan sesungguhnya, kehidupan tanpa rekayasa, tanpa kemunafikan dan kebohongan. Sementara ibu, beberapa kali pingsan dan terbujur kaki di samping mayat kakakku.

Keluarga besarku tak kuasa menahan sedihnya. Bahkan ada beberapa orang yang nekat akan menyerang dan membakar rumah puang Hasming yang diduga menyebabkan kakakku meninggal.
“Jumran telah dimakan parakang hingga meninggal, isi perutnya kosong,” opini sepupuku itu kudengar samar.
“Iya saya juga duga begitu,” sahut warga yang berkerumun di depan rumah.
*******

Umurku saat kejadian itu baru menginjak tiga belas tahun. Aku belum mengerti sepenuhnya arti kehilangan. Hanya yang kutahu, sejak saat itu kami tak pernah lagi pergi menonton di rumah H. Jamal. Tak ada lagi kejar-kejaran sepulang nonton sambil berteriak “parakang”. Tak ada lagi ritual tidur bertiga. Tak ada.

Aku dan Haderia tumbuh bersama, menuju kedewasaan. Tapi aku takut berdekatan dengannya. Gelar parakang ibunya masih membayang, jika benar parakang turun temurun, maka Haderia juga adalah parakang. Mata rantai itu tak akan terputus. Puang Hasming telah lama meninggal. Namun warga belum sepenuhnya berani keluar malam seorang diri dan jika ada yang sakit, warga masih berbondong berjaga-jaga. Suara aneh masih sering terdengar di sekitar rumah si sakit.

Haderia tumbuh jadi gadis cantik memukau. Banyak pemuda sering berkunjung ke rumahnya, berharap cintanya. Aku tak sekalipun ke rumahnya. Aku memilih lebih banyak tertunduk jika lewat di depan rumahnya. Bukan lagi karena takut Haderia adalah keturunan parakang. Tapi aku takut menatap matanya. Itu saja.###

Irhyl R Makkatutu
Selengkapnya... 5 Komentar

13 March 2013

CINTA PENGHUJUNG WAKTU: Oleh Mariana Ulfa Prahara

cukup kau tahu sekarang bahwa aku mencintaimu meski kau tak bisa melihat itu dengan hatimu…aku mencintaimu meski kau telah menikam aku dengan belati cintamu… ****** Nora dan Kris adalah sepasang suami istri yang telah menjalani hubungan pacaran selama empat tahun lamanya. Di tahun ke kelima akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan menjalani bahtera rumah tangga sebagaimana pasangan lainnya. Di bulan pertama kisah cinta ini begitu manis. Di bulan kedua, ketiga dan seterusnya rumah tangga Nora dan Kris sudah mulai diguncang prahara. Apalagi setelah kepergian Nora meninggalkan rumah dan juga suaminya Kris, membuat suasana makin tegang. Puncaknya kemudian ketika Nora tak mengetahui bahwa dirinya kini sedang mengandung janin dari hasil pernikahannya bersama Kris. Ia bahkan di tuduh yang tidak-tidak oleh suaminya dan membuat hati Nora semakin panas. Ini sudah menginjak bulan kelima, perut Nora pun semakin membesar. Namun, sampai saat ini juga Kris tak pernah datang untuk menjemputnya, bahkan sekedar untuk menengoknya pun tidak. Masuk bulan keenam barulah Kris datang untuk melihat bagaimana kondisi Nora yang semakin menyedihkan menjalani hari-hari dengan perut membuncit tanpa seorang suami di sampingnya. Terkadang rasa rindu untuk bersama Kris selalu hadir namun seiring itu pula hati Nora panas dan sakit ketika mengingat perlakuan dan sikap suaminya terhadap dirinya. Cinta di hati Nora dengan sekejap lenyap tanpa meninggalkan jejak. Apa lagi pertengkaran yang acap kali mewarnai lewat telepon membuat Nora memikul beban yang begitu beratnya sampai-sampai Nora nyaris kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya. “Kau tak akan pernah mengerti bagaimana aku dan setiap sakit yang kau goreskan adalah satu kekuatan untuk aku dan juga bayiku bertahan bersama. Yang kau tahu hanyalah bagaimana melukis setiap kisah berdarah dalam memorimu dan menggantungkannya pada dinding sejarahmu”. Gumam Nora memiris *** Waktu yang dinanti-nantikan oleh Nora dan juga orang tuanya akhirnya datang juga, tepat pukul 05: 10 wita, Nora melahirkan putra pertamanya dengan selamat di rumah. Hal ini membuat keluarga Nora merasa sangat bahagia apalagi Nora yang kini sudah menjadi seorang ibu. Rasanya masih tak percaya dirinya kini memiliki seorang anak. Sebelum persalinannya di rumah, Nora sempat dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya. Namun ,tiba di rumah sakit ia diperiksa oleh bidangdan katanya ini masih dalam pembukaan dua kemungkinan untuk melahirkan masih lama rentang waktunya bisa sampai besok. Bidan memberikan penjelasan akan kondisi Nora yang mau melahirkan, disarankan untuk kembali saja dulu ke rumah karena melihat kondisi pasien agak tertekan dengan suasana di rumah sakit. Keluarga Nora mempertimbangkan hal tersebut dan juga memperhatikan wajah Nora yang memang agak stress dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Akhirnya orang tua Nora memutuskan untuk membawa Nora kembali kerumah dengan meminta dulu persetujuan dari Nora dan ia pun menyetujuinya. Kembalilah Nora dan keluarganya ke rumahnya. Tante Nora yang bernama Rosma merasa sangat sedih melihat keadaan Nora. Rosma tahu betul kalau Nora menahan rasa sakit yang amat dahsyat namun Nora tak pernah mengeluh akan rasa sakit itu karena ia tak ingin membuat orang tua dan keluargax panik. Air ketubang Nora sudah pecah rasa sakit kini semakin mengguncannya, perjuangannya selama 7 jam kini sudah selesai. Malaikat kecil Nora akhirx melihat dunia. Kelahiran malaikat kecil itu membawa kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan oleh Nora. Semua masalah dan rasa sakit yang dirasakan Nora sekejab hilang ketika melihat wajah polos malaikat kecilnya yang selalu memberi kedamaian di hatinya. Mengasuh anak menjadi hal yang harus di pelajari Nora. Namun berbekal dukungan orang tua dan rasa cinta mereka, apapun selalu ada solusinya dan mereka bisa melewati masa sulit tersebut. Beberapa bulan berlalu hingga malaikat kecil Nora sudah mulai rewel. Mengasuh satu anak hingga sebesar ini rupanya membuat Nora merindukan suaminya Kris. ***** Malam dengan suasana yang begitu dingin Nora merangkul anaknya, didekatnya ada ayah dan ibunya Nora yang selalu setia mendampingi Nora. “ Ayah-ibu, ada hal yang ingin kusampaikan pada kalian mengenai aku dan mas Kris” “Bicaralah anakku, kami berdua sudah lama menunggu momen untuk kamu bicara soal ini” “Bu… aku sudah bicara dengan mas Kris mengenai rumah tangga kami, aku berpikir selama ini mungkin aku dan mas Kris memang harus mengakhiri hubungan kami. Tetapi, sejak kelahiran anakku Nathan, aku berpikir lagi bahwa aku akan memberikan kesempatan kedua pada mas Kris untuk memperbaiki rumah tangga kami, ini juga demi kebaikan anakku Nathan. Aku tak ingin anakku menderita hanya karena keegoisan kami berdua, aku juga ingin anakku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah seperti anak-anak yang lainnya” “ Apa kau sudah yakin dengan semua ini nak..” “Iya bu…aku sedah memikirkan ini dengan matang” “Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, sebagai orang tua kami hanya mendukung apa yang menjadi keputusanmu dan yang terbaik menurutmu” “Namun, aku mengajukan syarat kepada mas Kris untuk kembali kepadaku, syarat yang pernah di katakan waktu itu” “Iya sayang…” “Makasih ya ayah-ibu untuk semua hal yang telah kalian lakukan untukku, aku tidak akan bisa sekuat dan setegar ini jika bukan semangat dan dorongan dari ayah dan ibu, yang tak mengenal kata lelah untuk menyayangi dan mencintaiku” “kau adalah permata dalam hati kami sayang yang akan kami jaga dan lindungi selalu”. Suara tangisan Nathan membuat suasana haru menjadi buyar seketika. Dengan perlahan Nora menggendong anaknya dan menenangkan dalam pelukannya . ***** Setahun sudah berlalu, tak terasa Nathan sudah sebesar ini. Melihat Nathan yang sudah semakin pintar dengan berbagai macam tingkahnya yang menggemaskan membuat suami Nora ingin memiliki anak lagi. Namun, Nora agak menolak dengan alasan masih ingin mengecek kedokter perihal kondisinya. Setelah semalam suntuk Nora tak bisa tidur karena sakit kepala kembali menyerang Nora. Namun Nora tak ingin mengatakan itu pada mas Kris. kondisi ini beberapa kali terjadi hingga setengah tahun lamanya. Membuat mas Kris sedikit berpaling dari Nora. Apalagi di sekolah tempat mas Kris mengajar, ada seorang stap baru yang membuat mas Kris merasa nyaman bersama wanita itu. Namanya Viky. Sedikit demi sedikit Viky mulai menguasai pikiran dan hidup mas Kris. Membuatnya jarang pulang tepat waktu dan membuat Nora heran. "Kok sering pulang telat, Mas?" tanya Nora. "Lembur.." mas Kris menjawab pendek sambil mengganti pakaiannya. Ia sebenarnya masih mencintai Nora, namun di sisi lain ia makin dekat dengan Viky. Ia merasa hubungannya dengan Nora hambar serta membosankan akhir-akhir ini. Kali ini bukan karena Nora menolak punya anak lagi, namun kesibukan Nora dan mas Kris membuat pria ini merasa jarak mereka makin jauh dan Nora seolah tak melihat hal itu sama sekali. Kehidupan pernikahan Nora dan mas Kris makin menjemukan. Nora makin bekerja keras dalam karirnya sehingga fokusnya seringkali hanya pada anak dan karir. Nora memang lebih pendiam kalau sudah pulang kerumah apalagi kalau sudah mengahbiskan waktunya bersama anaknya Nathan, tapi Herman pikir mungkin hal ini disebabkan oleh keperluan anak mereka yang makin banyak. beberapakali hubungan Nora dan mas Kris menegang oleh pertengkaran-pertengkaran kecil. Mas Kris sering pulang malam dan Nora mulai curiga dengan apa yang dilakukan oleh suaminya di luar rumah. "Aku kerja. Aku kan juga nggak pernah protes ketika kamu pulang malam, Nor," kata mas Kris dengan nada tinggi. "Kamu berubah, Mas. ngajar juga nggak mungkin pulang malam terus kan?" Nora membalas. Mas Kris mendengus sebal dan menyahut, "Kamu tanya saja sendiri pada dirimu, kenapa aku jadi nggak betah. Kamu terlalu sibuk dengan karirmu, aku juga bisa kalau begini caranya." Ia sebenarnya sakit mengucapkan hal ini pada Nora. Namun emosinya sudah lama tertahan dan kali ini ia merasa muak pada omelan istrinya Nora. Viky juga mulai berani mempengaruhi mas Kris untuk menceraikan istrinya. Awalnya mas Kris ragu, namun makin sering mas Kris dan Nora bertengkar di belakang anaknya. Hal ini mulai membuat mas Kris merasa tidak nyaman. Mas Kris pun mulai menyampaikan keinginannya untuk bercerai. Tentu saja hal ini membuat hati Nora hancur setengah mati. Nora menolak perceraian itu karena tidak ingin anaknya Nathan merasakan keluarga yang hancur retak. Nora tak ingin anaknya Nathan diolok-olok oleh temannya karena kesalahan orang tuanya. Namun mas Kris makin menghancurkan hati Nora karena menyodorkan surat pengajuan cerai beberapa hari setelah ia menyampaikan keinginannya itu. Semalaman Nora memandangi surat cerai terhampar di meja kerjanya, sementara mas Kris tidur dengan tidak nyenyak di ranjangnya. Keesokan paginya, Nora menyerahkan surat itu pada mas Kris dengan mata sembab karena sesekali menangis dan belum tidur semalaman. "Aku akan menandatanganinya setelah tiga bulan dari sekarang. Dalam waktu tiga bulan itu, aku ingin Mas selalu menggendong aku dari ranjang ke meja makan untuk sarapan setiap pagi. Juga dari ruang keluarga ke kamar tidur setiap malam," ujar Nora dengan suara setengah serak seperti orang yang semalaman belum tidur. Mas Kris merasa agak aneh dengan permintaan istrinya Nora, namun ia tetap menyanggupi permintaan itu. Ia pikir istrinya hanya ingin mengulur waktu cerai dan membuat mas Kris kembali. Mendengar kabar rencana perceraian Nora dan mas Kris itu, Viky sedikit menertawai ulah Nora. "Ada-ada saja. Setelah kondisi sudah seperti ini, baru istrimu merajuk untuk bisa kembali." Begitulah, sesuai janjinya, mas Kris selalu menggendong Nora setiap pagi dan malam. Mas Kris bisa merasakan Nora lebih bersandar padanya, namun di sisi lain mas Kris berpikir bahwa Nora mungkin juga sedang menikmati momen-momen akhir bersamanya. Sebentar lagi mas Kris tetap akan menceraikannya dan membawa Viky dalam kehidupan barunya. Pemandangan romantis antara Nora dan mas Kris membuat anaknya Nathan kadang bersorak pada kedua orang tuanya itu. Hal ini membuat mas Kris sedikit berbesar hati. Namun, mas Kris meneguhkan dirinya agar tak mudah termakan suasana, Sementara Nora hanya tersenyum penuh makna sambil bergelayut di leher suaminya ketika digendong. Diam-diam, mas Kris merasa istrinya Nora makin kurus dari hari ke hari. Setiap gendongannya terasa makin ringan. Mas Kris memandangi wajah istrinya sesekali ketika menggendongnya sembari mengecup keningnya. Nora nampak lelah belakangan ini, kantung matanya sering kelihatan membesar dan ia sering menyandarkan kepalanya ke dada mas Kris. Hal ini membuat mas Kris mulai ragu dengan keputusannya bercerai, ada kehangatan merasuk di dadanya setiap kali menggendong istrinya Nora. Tanpa terasa, mas Kris mulai merasakan cinta kembali bersemi pada hubungannya dengan Nora. Mas Kris merasa istrinya makin cantik dari hari ke hari, hingga hari-hari penandatanganan surat cerai itu makin dekat. Saat mas Kris hendak menggendong Nora di pagi hari terakhir dari tiga bulan perjanjian itu, Nora menahan tangan mas Kris. "Kan hari ini sudah genap waktunya, Kamu nggak perlu gendong aku lagi, Mas." Mas Kris tersenyum saja dan membawa Nora ke meja makan. Ia menyajikan sarapan lalu mengecup kening Nora, "Sarapan aja, Nora. Selamat pagi." Begitulah Nora dan mas Kris menghabiskan sarapan mereka dengan lebih hangat dan mesra. Namun di akhir sesi sarapan, Nora memberikan surat cerai yang sudah ditandatangani dan dibungkus amplop. "Ini, Mas. Terima kasih selama ini sudah mencintaiku," ujarnya sambil menitikkan air mata. Mas Kris terpana, namun surat itu diterimanya. Sebelum berangkat ke sekolah, mas Kris memeluk Nora. Di sekolah, mas Kris mengatakan pada Viky bahwa ia mengurungkan niatnya bercerai. Tentu saja wanita itu begitu kesal mendengar ucapan yang keluar dari mulut mas Kris dan menampar wajah mas Kris keras-keras. Ia tahu dengan konsekwensi ini, ia siap menerimanya karena sejauh ini ia dan Viky belum sampai berhubungan badan. Ia bersyukur masih bisa mengendalikan dirinya selama ini dari berzina. Sekarang yang ada di benak mas Kris adalah Nora. Mas Kris masih ingat dengan bulir air mata Nora yang hangat jatuh di tangannya tadi pagi. Mas Kris merasakan cinta itu dan tak sabar ingin segera pulang. Mas Kris bahkan menyempatkan diri membeli buket bunga paling indah kesukaan Nora dan bergegas pulang sore itu. Sesampainya di rumah, mas Kris memanggil-manggil nama istrinya Nora. Namun ia tak juga mendengar jawaban. Hingga mas Kris melihat Nora di kamarnya, tidur dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya tadi pagi. Namun saat mas Kris mendekatinya, Nora sudah tidak bernyawa lagi. Mas Kris tidak percaya, bagaimana mungkin Nora bisa meninggal? Ia mengguncang tubuh dan wajah Nora sambil memanggil namanya. Kepergian Nora menjadi penyesalan yang tak terperi bagi mas Kris. Rupanya selama ini Nora mengidap penyakit parah yang tak sempat disampaikannya pada mas Kris. Di kala istrinya itu tengah memikirkan sendirian dan berjuang melawan penyakitnya, mas Kris malah sibuk dengan rencana perceraian mereka. Nora dimakamkan keesokan harinya, diiringi rasa sedih dan duka dari mas Kris dan putra mereka, Nathan. Kendari, 22 Februari 2013 belajar memahami bahwa tak semua yang kita harapkan bisa kita dapatkan ,ikhlas menerima kesalahan dan belajar dari tiap kesalahan, karena itu yang menjadikan kita kuat dalam menjalani hidup. “Aku Kenangan” Luka dan cinta itu masih kuternakkan, aku temukan diriku disana juga dirimu belepotan penuh dawat cinta penuh rindu merindang, lalu aku dan kamu menyelam hingga ke telaga kenangan.
Selengkapnya... 0 Komentar