31 July 2012

Sekilas Tentang Angkatan Balai Pustaka periode 30-an

Komentar ada... 0
Lahirnya kesusastraan Indonesia modern serta perkembangan dalam kurun waktu yang awal begitu erat hubungannya dengan sejarah kebangkitan nasional, sehingga hampir-hampir tak mungkin membicarakan yang satu tanpa menyinggung yang lain. Pada umumnya para pengamat sastra bersepakat bahwa kesusastraan Indonesia Modern berawal di sekitar 1920.

Pada tahun tiga puluhan masalah bahasa Indonesia senantiasa merupakan pokok pembicaraan yang banyak menguras emosi karena keanekaan pendapat, baik yang konservatif maupun yang menghendaki kemajuan yang lebih pesat. Sutan Takdir Alisyahbana telah memberikan sumbangan berharga dalam esai-esainya.

Sebagian kaum nasionalis, antara lain Muhammad Yamin dan Sanusi Pane suka mengenang kejayaan masa lampau dan seakan-akan menimba inspirasi untuk menciptakan masa depan yang jaya pula. Sanusi Pane mempunyai batin yang kuat dalam dunia ketimuran. Dalam karya-karyanya, ia mencari hubungan dengan jiwa kesusastraan timur seperti India dan Persia. Keduanya menggarap pokok-pokok dari sejarah Indonesia.

Sebaliknya Sutan Takdir berpendapat bahwa Indonesia harus berkiblat ke barat untuk dapat mencapai kemajuan yang didambakan bagi jutaan penduduknya. Kejayaan masa lampau bukanlah sesuatu yang patut kita bangkitkan kembali, karena itu sudah “mati sematinya”. Tak mungkin ia berguna sebagai landasan untuk masa depan.

Perdebatan ini memperlihatkan betapa dari awal mula pembinaan bangsa telah menarik minat para pemikir Indonesia. Sebagian karangan-karangan tentang kebudayaan ini kemudian dikumpulkan dalam suatu buku berjudul Polemik Kebudayaan.

Angkatan Balai Pustaka

Sampul buku Angkatan Balai Pustaka (Siti Nurbaya, Azab dan Sengsara, serta Salah Asuhan)

Roman karya Merari Siregar berjudul Azab dan Sengsara yang terbit pada tahun 1920 oleh penerbit PN Balai Pustaka ditunjuk sebagai awal kebangkitan Angkatan Balai Pustaka. Karena itu, Angkatan Balai Pustaka pun juga dinamai Angkatan 20. Apakah roman Azab dan Sengsara yang bahasanya banyak unsur bahasa Melayu, mendayu-dayu dan diselingi pantun dan pepatah-pepitih merupakan buku pertama kesusastraan Indonesia? Ada kontroversi di sini.

Sementara itu, Ayip Rosidi dalam bukunya berjudul Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia menyatakan bahwa karya sastra Indonesia adalah segala karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu terletak pada adanya semangat dan kesadaran nasionalisme Indonesia, suatu kesadaran untuk merdeka dalam persatuan kebangsaan Indonesia.

Sejak kebangkitan bangsa Indonesia melawan penjajah dengan menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Sebelum bangkitnya kesadaran ke-Indonesia-an itu, bahasa yang menjadi cikal bakal dan sumber utama bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu. Jadi, menurut Ayip Rosidi, bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dijiwai oleh nasionalisme Indonesia. Tanpa jiwa dan semangat tersebut, bahasa tersebut tetaplah merupakan bahasa Melayu.

Sebetulnya, tidak ada benang merah dan relevansi antara Angkatan Balai Pustaka dengan pembinaan nasionalisme, aspirasi kemerdekaan Indonesia, menegakkan keadilan kebenaran dan memerangi kemungkaran dalam maknanya yang militan, apalagi semangat berkobar-kobar mengusir penjajah laknat. Sebagai penerbit pemerintah, Balai Pustaka tidak mau buku-buku yang diterbitkannya menjadi bumerang yang mendeskreditkan bos mereka. Sementara Roman-roman Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, serta Katak Hendak Jadi Lembu, Salah Pilih, Karena Mertua, Apa Dayaku Karena Aku Perempuan karya Nur Sutan Iskandar dan karya sastra lain yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan mengisi khazanah Angkatan Balai Pustaka hanya berbicara tentang pernik-pernik kehidupan rumah tangga biasa, adat kawin paksa, cinta muda-mudi tempo dulu, keculasan dan keserakahan versus kebaikhatian. Buku-buku tersebut sama sekali tidak pernah menyinggung penindasan pembodohan, pemiskinan, sekularisasi yang dilakukan oleh penguasa-penguasa kolonial.

Di samping tampil dengan sikap politik yang kompromistis dan berbaik-baik dengan pemerintah kolonial (mungkin ini dilakukan oleh pengarang semata agar karya-karyanya bisa diterbitkan), roman-roman Balai Pustaka didominasi oleh tema-tema sekitar adat kawin paksa, sikap otoriter orang tua dalam menentukan jodoh sang anak, konflik Generasi Muda versus Generasi Tua yang dimenangkan oleh pihak orang tua. Tokoh-tokoh cerita umumnya dilukiskan secara dikotomis hitam-putih, dan ekstrim. Tokoh baik dilukiskan serta sempurna, fisik, penampilan, pandangan hidup, sikap dan moralnya serba baik dan ideal. Sebaliknya, tokoh-tokoh yang jahat digambarkan serba jelek dan memuakkan, baik tampang lahiriah maupun moralitasnya, sampai-sampai, penyakit yang diidap tokoh antagonis ini pun merupakan penyakit kotor (tokoh Kasibun dalam Azab dan Sengsara). Pengarang dengan seadanya memotret realitas-realitas sosial yang terjadi ketika itu, dengan visi dan misi yang sejalan dengan politik pemerintah kolonial. Umumnya mereka berani menentang arus atau menjadi oposisi. Mereka menyikapi adat kawin paksa, dominasi orang tua, sistem pendidikan, pola hidup dan budaya bangsa-bangsa Eropa yang menjajah di sini sebagai sesuatu yang wajar, positif, nyaris tanpa sikap kritis, meskipun hati nurani mereka berkata yang sebaliknya.

Situasi itulah yang dominan di antara roman-roman yang model cerita dan karakter tokoh-tokohnya yang sangat stereotip dan klise itu. Sebenarnya masih ada novel-novel yang menampakkan kemajuan cara berpikir pengarangnya, dengan wawasan hidupnya yang lebih luas, dengan sikapnya yang moderat dan terbuka, kritis dan proporsional. Darah Muda dari Jamaluddin Adinegoro dan Mencari Pencuri Anak Perawan karya Suman Hs adalah contoh novel/roman dari angkatan Balai Pustaka yang menghadirkan sikap dan citra baru, benar-benar sudah beranjak dari model cerita roman-roman seangkatan mereka.

Sementara itu, Abdul Muis tampil secara cemerlang dengan tema cerita dan wawasan estetik baru dalam roman Salah Asuhan, yang menampakkan beberapa kemajuan dan keistimewaan dibandingkan Siti Nurbaya dan Azab dan Sengsara, pendahulunya. Di sana dikisahkan seorang pemuda Indonesia bernama Hanafi yang mengalami salah asuhan, karena kegila-gilaannya pada yang serba barat menjebaknya untuk hanya sampai pada hal-hal yang lahiriah, hanya pada kulit luar dan permukaan, bukan pada substansinya. Muncullah di sana Hanafi yang kebelanda-belandaan dalam gaya dan cara berpakaiannya, hobi dan seleranya. Ini sangat berbeda dengan nilai-nilai barat yang ditransformasikan secara cukup kreatif oleh Sutan Takdir Alisyahbana, pelopor Angkatan Pujangga Baru yang menangkap barat lebih pada jiwa dan intelektualitasnya.

Bahasa, lukisan setting dan peristiwa dalam Salah Asuhan termasuk baru. Ia tidak lagi berasyik-asyik dengan jiwa kemelayuan yang penuh pepatah-petitih sebagaimana Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat. Ia tidak hanyut oleh selera massa dan kemauan penguasa, berani tampil mandiri menentang arus mengunjukkan diri sebagai karya yang berpribadi. Salah Asuhan merupakan novel hati nurani, karena dalam novel ini, pengarang yang juga salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, berhasil tampil otentik, mampu menyuarakan kebenaran sesuai aspirasi hati-nuraninya, jauh dari sekadar upaya agar karangannya bisa naik cetak di Balai Pustaka.

~~~ Semoga Bermanfaat ~~~

0 Komentar:

Beri Komentar