04 December 2009

Harga Sebuah Janji

Komentar ada... 0

Oleh: Irhyl'k Rhantaz

Rekah jua putik itu. Raba resah yang menyalib cinta di tabir hening. Tata angan di telaga sunyi. Lukis tawa di ruas persimpangan, lantas nafas zaman berhembus serak setubuhi anganku. Akankah para musafir dan malaikat bertirakat untukku? Akankah puisi tentang musim semi rampung ketika penggembala embun kepakkan sayapnya tinggalkan mentari? Ataukah, aku mendaur hampa tiap harapan itu? Mantasia, kurasa sudah saatnya gerimis perasaanku kutuang padamu. Karena hentakan rindu memenggal kesabaranku hingga ke ubun waktuku.

Kepingan kata-kata itu kutabur di terminal cahaya pekan lalu. Aku tak lagi peduli apakah Mantasia akan membacanya ketika cahaya merasuk ke kamarnya di pagi hari. Padahal kata-kata itu sangat penting artinya bagiku. Tapi aku telah ikhlas, aku telah bahagia melakukannya untuk seorang yang bernama Mantasia. Meski ia tak membacanya sekalipun. Lagi pula ini bukan pertama kalinya aku mengirim kata-kata seperti itu untuknya. Tapi kata-kata di atas sangatlah istimewa, karena kutabur di terminal cahaya. Kalau selama ini hanya kukirim lewat esemes ke nomor nol delapan lima dua empat dua enam sembilan enam enam delapan satu yang tidak asing lagi bagiku. karena pemilik nomor hape tersebut adalah Mantasia. Dia kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di kota ini. Dia berasal dari Manado, namun sebenarnya orang tuanya asli Makassar dan di kota ini ia tinggal di rumah tantenya. Mantasia anak kedua dari tiga bersaudara. Dia suka warna biru muda.

Hanya itu yang kutahu tentang Mantasia. Perkenalanku dengannya secara tak sengaja. Beberapa yang lalu esemesnya kesasar ke nomor hapeku. Aku balas esemesnya mencoba mengingatkan kalau dia salah kirim. Sejak itulah kami kenalan dan sering esemesan sampai saat ini. Tapi aku tak sekalipun pernah ketemu dengannya.

Cahaya meredup pagi itu. Nafasku terasa sesak. Cahaya benar-benar akan menjauh dariku. Dari pertemuanku dengan Mantasia. Kata-kata yang kutabur di telapknya akan terhapus gerimis pagi. Mataku sedikit nanar, sedikit berair. Tapi bukan menangis meski ada sendu di wajahku. Toh aku harus benar-benar belajar ikhlas menghadapi tiap tapak kehidupanku. Tiap jejak kemungkinan. Bukankah kita hidup di ranah kemungkinan? Lalu bagaimana dengan Mantasia? Adakah juga resah ketika tahu aku menabur kata-kata untuknya di terminal cahaya? Sedangkan cahaya meredup. "Ah....ternyata aku belum bisa sungguh-sungguh ikhlas melakukan penaburan kata-kata tersebut. Buktinya aku masih harap imbalannya," ungkapku dalam hati. "Sialan....," lanjutku mengumpat diri sendiri.

Matahari pagi meratap. beku. Lalu menggigil di sudut-sudut temani diriku menatap pucuk dedaunan tanpa embun. Imajiku liar, menjelajah ke dimensi-dimensi waktu, ragaku terasa melayang menuju suatu tempat yang tak pernah hinggap di pikiranku selama ini. Di tempat tersebut sebuah jendela terbuka, seakan menyambut kedatanganku. Di sana terbaring sosok gadis yang terbalut kata-kata yang kutabur pekan lalu. Di sekeliling kata-kata itu cahaya berputar menjaganya. Aku tak bisa menyentuhnya. Aku hanya terpaku. "Diakah Mantasia yang kukirimi kata-kata pekan lalu," ujarku setangah berbisik, karena takut mengganggu damainya. Ia teramat damai terbaring dengan balutan kata-kata mutiara yang kukirim untuknya. Sepersekian menit, aku masih terpaku, hingga sebuah suara lembut menyapaku

Jujur aku juga rindukan pertemuan itu, An. Tapi sekarang bukan saat yang
tepat untuk bertemu. Aku tahu kalau tanya selalu rindukan jawaban. Iayaknya
Adam yang selalu rindukan Hawa ketika Tuhan memisahkannya di bumi.
Layaknya Romeo yang selalu rindukan Juliet berada di sisinya hingga keduanya
melihat maut datang kepakkan sayapnya. Dan sejarah mencatat pertemuan
cinta mereka yang kini terpatri abadi di lekuk peradaban dalam candi keabadian. Anto bilakah alam bertanya di mana. fatamorgana bertirakat jawaban dalam denyutku bersamamu. Kembalilah, kembalilah belum saatnya kita bersua....

Suara itu mengagetkanku dari sebuah lamunan pagi. Aku kaget mendapati diriku berdiri di jendela kamarku, menatap lurus ke depan. Kini pandanganku mencoba menelanjangi yang ada di sekitarku. Mencari tahu suara yang barusan bertandang ke gendang pendengaranku. Aku jadi malu sendiri pada diriku ketika menyadari imajiku kian liar memikirkan Mantasia.

Namun peredaran waktu ternyata tak mampu menghentikanku berkhayal tentang Mantasia. Satu hal yang membuatku tak jenuh memikirkannya, karena dengan memikirkannya ada berjuta percakapan puisi kutemui di sana “dia pasti gadis yang romantis" begitulah gumamku setiap aku membayangkannya. Bahkan khayalanku tentangnya kian menggila dan edisi waktu ke waktu Iainnya, aku sering bayangkan. Mantasia berhidung mancung, body langsing, mempunyai lesung pipi, mata bening, kulit kuning langsat, suara serak-serak basah karena aku suka gadis bersuara seperti itu dan masih banyak lagi yang sering kubayangkan tentang Mantasia. misalnya bagaimana dia menggendong anak-anakku kelak hasil buah cinta kami. Kadang juga sering kubayangkan yang mengerikan tentangnya. Bagaimana kalau dia tak perawan lagi? Bukankah pergaualan sekarang kian gila. Pergaulan telah melabrak tata norma dan adat istiadat. Ataukah dia anak pejabat yang terlibat korupsi. Atau anak tetoris yang meresahkan dunia, atau....atau...atau.....aku bingung memikirkannya.

Akü baru sadari perkataan ustadz Bakri guru ngajiku dulu di kampung halamanku kalau sebenarnya kita tak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, dan sebagian dari diri kita sebenarnya ada pada oranq lain tapi kadang kita tak menyadarinya disebabkan rasa egois manusia yang terlalu tinggi. Semua itu bisa kita rasakan dengan adanya anugerah yang ditiupkan Allah SWT pada tiap ubun makluknya yaitu rasa cinta. Sekarang aku rasakan kebenaran perkataan itu. Aku merasa sebagian dan denyut-denyut kehidupanku ada dalam kehidupan Mantasia sekalipun aku tak pernah bertatap muka dengannya. Bahkan aku merasa ada sesuatu yang hilang jika tak kujumpai sepucuk kabar darinya. Meski kabar itu hanya kepingan kata yang tak sempurna di layar hapeku.
Sunyi meratap. Senyum mengendap di dasar air mata. Gigil melambai. Tegar melantak. Penantian meratu di ujung lorong pertemuan. Namun desir angin melagu serak mengrim duka. Duka yang terbalut keentahan. Aku ada pada ranah keentahan itu. Sepekan ini kata-kata tak sempurna yang biasa dikirim Mantasia tak bertamu di layar hapeku. Esemesku juga tak pernah dibalas. Hal itulah yang membuatku menjadi lelaki penanti esemes. Tiap pagi aku kadang habiskan waktuku memandang hapeku berharap ada esemes dari Mantasia. Sore pun demikian, bahkan kalau malam aku tak pernah lagi istirahat dengan tenang. Aku biasanya sudah terpulas pukul dua pulu dua.
malam jadi sering terlelap ketika waktu menyapa dini hari hanya menantikan esemes dari gadis itu.

Maaf, berjuta detik aku tak menghubungimu. Aku ke manado menemui orang tuaku meminta restunya tentang hubungan kita. Dan memutuskan pertunanganku dengan Raka, lelaki pilihan orang tuaku. Ini nomor baruku. Mantasia.

Bunga-bunga tertatih dengan dansanya. Tersenyum padaku. Hari kesembilan Mantasia mengirim kabar padaku. Kabar yang telah lama kunantikan pada tiap waktu.

Kamu buatku resah. Mengajariku jadi lelaki penanti esemes. Oya bagaimana tanggapan orang tuamu tentang hubungan kita.


Kubalas esemesnya secepat mungkin. Aku ingin melepas semua kejenuhanku. Kutunggu balasannya dengan mimik yang tidak sabaran. Tidak ada. Dia tak membalasnya. Ada gurat kecewa terlukis di awan-awan. Aku menelponnya. Untuk pertama kalinya sejak kabarnya lenyap beberapa hari, karena hapenya tak pernah aktif. Rupanya ia ganti nomor.

Halo,... Tasya...... lantas bagimana rencanamu sekarang?" ujarku melalui hape.
"Aku putuskan kabur dari rumah. karena aku ingin melewati antrian waktuku bersamamu An," ungkapnya sambil terisak.
"Maksudmu kita akan bertemu, lalu kemudian menikah dan hidup bersama. Tapi ini gilakan, bagaiman dengan kualiahmu dan juga kuliahku? Kamu sudah bicara sama orang tuamu?" tanyaku penuh selidik dan kegalauan.
"Iya aku sudah cerita tentangmu. Tapi ternyata usahaku gagal orang tuaku tak merestui hubungan kita. mereka bersikukuh menikahkan aku dengan Raka, tapi aku tak pernah rnencintai lelaki itu. Dia masih keluargaku. Akhirnya aku putuskan kabur dan rurnah dan kembali ke Makassar untuk hidup bersamamu. karena aku mencintaimu Anto. Aku rasa sudah saatnya kita ketemu. Tapi kamu janji tak akan kaget ketika melihatku, mungkin aku tak seindah yang kau bayangkan selama ini," terangnya, ia kedengaran tak lagi terisak. dari nada bicaranya sekarang menampakkan kalau dia cukup mantap memilih jalan hidup bersamaku.

Aku terdiam dalam waktu yang cukup lama. Galau tiba-tiba melamar ke ulu hatiku. Akhirnya rekah jua putik itu, aku ingin menuangkan gerimis perasaanku padamu. Kepingan kata-kata yang pernah kutabur di terminal cahaya, kembali terbaca olehku. Kepingan kata-kata itu melingkari tiap pijakanku. "Aku harus menepati janjiku padanya, meski ia tak seindah yang kubayangkan," kataku membatin. Aku bingung dan merasa kalang kabut. Mantasia ingin hidup bersamaku. Tapi aku belum siap menikahinya, aku ingin menyelesaikan kuliahku yang kini baru memasuki semester lima. Aku tak ingin menghancurkan harapan kedua orang tuaku. Aku adalah anak satu-satunya yang menganyam pendidikan. Saudara-saudaraku yang empat orang bahkan ada yang tak tamat esde. Aku anak bungsu dari lima bersaudara. Aku adalah tumpuan harapan keluargaku. Ah aku kian bingung. Di satu sisi, aku juga tak mau kehilangan Mantasia. Aku merasa telah cocok dengannya bahkan sangat cocok walaupun kami tak pernah ketemu.
Halo, kenapa diam An, kamu tidak siap menerima kenyataan ini?" suara serak-serak Mantasia lewat hape mengagetkanku dari lamunan panjang.
"Ah...tidak apa-apa," ujarku, belajar lepas dari jerat kebingungan.
"Terus, kenapa kedengaran bingung?" tanyanya penuh selidik.
"Tasya, kamu sudah pikirkan dampaknya, kamu juga tak akan menyesal ketika kelak kau melihatku, lantas aku juga tak seindah yang kamu bayangkan selama ini. Jujur ketika pertama kita esemesan aku merasa kaulah yang terbaik bagiku, aku tak akan menyesal mengenalmu, hanya saja apakah keputusan ini adalah yang tepat buat kita. Apakah menikah adalah jalan terbaik?" terangku dengan nada-nada kegalauan yang tak beraturan. Pikiranku terasa lantak. Galau benar-benar bertasbih di ubunku.
"Ya aku telah pikirkan dampaknya, termasuk dicampakan oleh keluargaku. sekarang aku tak punya siapa-siapa di kota ini selain kamu, aku telah kabur dari rumah tanteku. Aku dianggap anak yang tak berbakti kepada orang tua dan sekarang aku tinggal di kost teman. Aku tak akan menyesal men genalmu. Sejelek apapun kamu, kita ketemu besok pagi di terminal Mallengkeri. Aku mau ke kampungmu yang penuh kedamaian, kesejukan dan keteduhan seperti yang pernah kau ceritakan dalam esemesmu. Aku ingin habiskan waktuku di sana. Kamu jangan jadi pecundang Anto," ujarnya bernada ancaman.
Telpon terputus. Aku belum sempat menyanggupi permintaannya. Kebingungan kembali jadi benalu dalam pikiranku.

Semalaman aku tak merasa menemui lelapku. Pikiranku mengembara temui resah dan kebimbangan.

Pagi hari. Cahaya keemasan menatap padaku. Terminal Malengkeri masih sedikit menggigil. Kata-kata yang kutabur di terminal cahaya akan aku kutemui kembali hari ini, membalut tubuhnya. Penumpang belum begitu ramai. Kutelanjangi seisi terminal itu mencari gadis yang memaki baju biru muda. Di pojok terminal kudapati sosoknya. Terbalut kepingan kata-kata yang kutabur dulu di terminal cahaya untuknya, sehingga dengan mudah aku mengenalinya, meski itu pertemuan pertamaku dengannya. Ternyata dia lebih anggun dari yang kubayangkan. Dia lebih sempurna dari yang kubayangkan selama ini. Aku tak bisa menyamakannya dengan artis tanah air atau membandingkannya karena Mantasia bukan skala yang harus dibandingkan.

Senja yang dingin, pepohonan cengkih yang hijau, jalanan yang berlubang belum juga dibenahi oleh pihak terkait menyambutku. Riuh anak-anak yang bermain kelereng di kolong rumah juga masih terdengar. Orang tuaku menyambut kedatanganku dengan suka cita sekaligus kaget karena ada seorang gadis yang kutemani.
"Ma, pa kenalkan ini Mantasia, temanku," kataku memperkenalkannya.
Setelah aku kenalkan Tasya pada orang tuaku, aku masuk ke kamar menyimpan tas. Di dalam kamar sayup-sayup kudenqar percakapan bapakku dengan Mantasia, sementara ibuku ke dapur membuat teh untuk kami.

Malam memakai jubah hitamnya. Suasana menggigil. Cahaya bulan meredup. Kata-kata yang kutabur di terminal cahaya, tetap setia temani Mantasia. Mantasia terlelap dalam selimut kata-kata itu. Di atas rumah panggung itulah aku dan orang tuaku duduk santai, melepas rindu setelah setengah tahun tak bersua.
"Anto...siapa sebenarnya gadis yang kamu temani itu?" pertanyaan itu meluncur dan kedua bibir perempuan yanq paling aku hormati, menancap ranting-ranting hatiku hingga kurasa remuk seketika.
"Dia berasal dari Manado, tapi kuliah di Makassar. Beberapa hari yang lalu dia ke Manado, tapi orang tuanya mengusirnya, karena dia tidak mau menikah dengan Raka. Lelaki pilihan orang tuanya dan tantenya yang ía tempati di Makassar pun berlaku demikian padanya. Ia ke sini untuk menenangkan pikirannya," terangku, tapi kedua orang tuaku seakan tak mempercayaiku.
"Atau kamu silariang nak?" tanya mamaku dengan bulir-buIir air mata. Sementara bapakku hanya diam. Aku yakin kedua orang tuaku merasa terpukul. Orang tua mana menginginkan anaknya silariang pasti tidak ada. Pasti semua orang tua ingin anaknya menikah baik-baik dengan pesta yang meriah. Dihadiri seluruh sanak keluarga. Apalagi orang tuaku adalah tokoh masyarakat yang punya pengaruh besar dan panutan warga di kampungku.
"Maafkan aku ma, pa. Tapi aku mencintai Mantasia dan aku tak mau kehilangan dia. Kami sudah berjanji akan menjadi sepasang suami istri. Aku akan menikahi dia ma, pa," ungkapku setengah tertunduk.

Belum selesai ucapanku bapakku bangkit dan melayangkan tamparan keras di wajahku. Aku terkapar mencium Iantai yang terbuat dari papan itu. "Kamu tahu bahwa silariang di kampung kita dianggap sangat tabu oleh warga. Bagaimana tanggapan mereka? Anak tokoh masyarakat yang dihormati, melakukan sesuatu yang ganjil," suara bapakku kian meninggi dengan tatapan penuh kebencian kepadaku. Sedangkan tangisan ibuku kian rnemecah keheningan malam membuat Mantasia terbangun. Tapi dia hanya mengintip di celah pintu kamar. Pada akhirnya, kedua orang itu tertunduk dan merestui aku menikahi Mantasia.

* * *
Pernikahan telah usai yang hadir pada hari yang sangat sakral itu hanya beberapa orang warqa. Sementara teman sebayaku yang hadir hanya Baso dan Disa, mereka memang sahabatku sejak kecil, kami tak pernah bertengkar
"Anto, percayalah inilah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untukmu tak perlu pedulikan perkataan orang di sekitarmu, karena semua orang memiliki penilaian yang berbeda. Tersenyumiah pasti ada hikmah di baIik semua ini," Kata-kata Disa bagai siraman gerimis di musim kemarau. Dan Baso menepuk bahuku sebaga suatu isyarat agar aku tetap tegar menghadapi semuanya.

Kini kurasa keteduhan, kesejukan, dan kedamaian kampung yang selalu kubanggakan itu tak lagi ada. Aku dan Mantasia menjadi buah bibir warga, bahkan sampai ke kampung sebelah, berita silariangku menjadi percakapan hangat semua warga. Justru aku merasa kesejukan, keteduhan dan kedamaian pindah ke mata bening Mantasia, tiap kali menatapku. Kepingan kata-kata yang pernah kutabur di terminal cahaya dulu, kini menyatu dengan lekuk tubuh Mantasia.
Warga kian ramai membicarakan kami.

Ah... dunia dan isinya kian edan," keluhku.

Makassar, 19 November 2008 kuperbaharui kisah ini.

0 Komentar:

Beri Komentar